Our Thought of Creative Industry

Holaaaa, balik lagi ke lembut studios blog. Lama juga udah engga bikin blog lagi. Mumpung kali kini punya konten menarik dan ingin share sedikit tentang iklim industry kreatif di Indonesia.

Okee… langsung saja yaaa, seperti kita ketahui belakangan ini booming banget sama yang namanya ekonomi kreatif, dan tak lepas dari itu muncul banyak industry kreatif dari berbagai daerah di Indonesia. Tak lepas dari itu banyak juga masalah-msalah yang di alami pelaku industry kreatif ini. Untuk itu ada baiknya kita membahas beberapa hal yang sering kita jumpai di industry ini, kami pun merasakan banyak hal yang sama dari sebagai pelaku industry ini.

Banyak hal yang menjadi persoalan dari industry ini, hal tersebut mulai dari pengakuan karya hingga pendanaan menjadi masalah yang sering dijumpai. Kita bahas pengakuan dulu yaaa, pengakuan yang dimaksud disini seperti hasil karya yang dilihat dari originalitas karya tersebut. Pernah gak kalian baca buku-buku desain modern ataupun pertengahan abad setelah abad 19? Banyak pelaku seni atau kreatif tidak menciptakan hasil karyanya secara otentik, apakah ini salah? Tentu saja tidak… setelah tahun 70an atau lebih ke tahun 80an pelaku industry kreatif bukannya tidak menemukan hasil karyanya yang original dari diri mereka. Tetapi, mereka lebih berfikir modern, karena menciptakan hal yang baru semakin sulit. Disini, terdapat istilah inovatif, yaitu menggabungkan beberapa elemen yang berbeda untuk menemukan hal yang baru dan itu pun termasuk original. Plagiat itu salah, karena plagiat menduplikat secara persis hasil karya orang lain dan menggunakan identisnya sebagai pencipta karya tersebut, tentu saja itu salah. Yang benar, gabungkan berbagai elemen dari berbagai karya entah itu karya klasik atau modern, dan ciptakan konsep karya yang bisa diterima. Jadi, bila kalian (pembaca) menemukan karya dari creator yang mirip dari karya creator lainnya itu bukan plagiat, tetapi diistilahkan sebagai inovatif. Kecuali, karya tersebut menjipalk sama persis dari creator lainnya dan yang diganti hanya label atau namanya, itu salah dan bisa kena hukum. Masalah pengakuan bukan hanya dari originalitas karya saja. Pengakuan dari penikmat karya mulai susah karena di Indonesia bila kreator tidak bisa menembus industry mancanegara, mereka akan dilihat sebelah mata, baik itu dari stakeholder maupun orang awam. Yang dimaksudkan disini aspresiasi dari penikmat Indonesia masih belum 100% mencintai karya local. Bila mendapat pengakuan, itupun membutuhkan waktu yang lama, kami juga tidak mengerti dengan budaya ini. Padahal, di Indonesia orang dengan kemampuan yang bisa dibilang diatas standard jumlahnya tidak sedikit, namun sayangnya aspresiasi dari hasil karya mereka yang susah untuk diterima oleh masyarkat lokal.

Bukan hanya tentang pengakuan, dari creator sendiri pun masih terdapat ganjelan yang membuat mereka susah diterima. “Idealisme” menjadi momok yang cukup krusial bagi seorang creator. Bukan masalah menjadi seseorang yang mempunyai idealism tinggi, tapi maksud dari menciptakan karya, bukan untuk dinikmati oleh diri sendiri tapi oleh kalangan luas. Dari sini kita dapat mengambil hal yang bisa dipergunakan dengan mudah yaitu “penerimaan”. Seperti dikatakan tadi, karya harus dinikmati oleh banyak kalangan, jadi hasil karya yang idealis alangkah baiknya bila di padukan dengan budaya atau elemen yang mudah diterima oleh penikmat karya.

Yang terakhir, hal yang paling krusial adalah pendanaan. Banyak creator dalam negeri yang mulai terjun ke industry kreatif merasa susah untuk mendapat pendanaan di awal. Padahal banyak program pemerintah yang mendukung indutri ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Bukan salah pemerintah atau siapa saja, disini masih ada hal yang perlu dicermati. Seperti hal yang dibahas tadi tentang “pengakuan”, pemerinath juga lebih mendukung creator yang sudah diakui. Ini lah hal yang menjadi penghalang bagi creator muda yang mempunyai talenta, yang belum bisa melakukan banyak hal untuk meningkatkan diri mereka agar bisa dikenal. Namun banyak cara menyiasati hal ini, salah satunya membuka relasi seluas-luasnya. Dari situ kita bisa bekerja sama dengan creator creator senior dan bila ada kesempatan bisa saja berkolaborasi. Simple saja, dari hal itu creator muda bisa mencari pengakuan yang susah didapat. Ingat, perjuangan di awal akan menjadi fondasi untuk melangkah kedepan. Semangat!!!.

Komentar

Postingan Populer